Kehadiran ChatGPT : Bersyukur atau Insecure?
Berkaitan dengan perkembangan bidang teknologi, menghadirkan teknologi chatbot sebagaimana dilaporkan oleh katadata.co.id bahwa berbagai industri di Indonesia mulai dari jasa keungan, ritel, e-commerce, hingga pemerintah menggandrungi chatbot
Berkaitan dengan perkembangan bidang teknologi tentu ucapan syukur yang seharusnya hadir. Bagaimana tidak, hadirnya chatGPT menunjukkan geliat perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan terus meningkat. Secara sederhana keberadaan chatbot ini diterima sebagai kemudahan bagi pengguna.
Sebelum fenomena chatGPT hadir, teknologi charbot sendiri sudah banyak digandrungi. Sebagaimana dilaporkan oleh katadata.co.id bahwa berbagai industri di Indonesia mulai dari jasa keungan, ritel, e-commerce, hingga pemerintah menggandrungi chatbot.
Sebanyak 71 % penggunanya menggunakan sebagai customer service dan 12 % untuk asisten virtual. Salah satu dampak positifnya startup teknologi seperti Kata.ai mencatatkan pertumbuhan pengguna hingga 170 % pada awal 2022 secara tahunan.
Fenomena ini tentunya menunjukkan bahwa perkembangan teknologi chatbot sudah dulu digandrungi sebelum fenomena chatGPT hadir menyerang.
Teknologi berbasis kecerdasan buatan adalah fenomena yang tidak bisa dihindari untuk sekarang atau nanti. Hal ini sebagai dampak dari perkembangan teknologi yang sewajarnya diterima dengan legowo.
Lantas bagaimana seharusnya pengguna bersikap. Di sinilah kecerdasan digital pengguna menjadi tamengnya. Mengapa demikian. Yuk kita ulas bersama.
Pertama, kompetensi apa yang kira-kira dibutuhkan agar pengguna dapat memanfaatkan chatGPT?
Ya, mengakses. Salah satu kompetensi dasar dari 10 kompetensi literasi digital yang digagas oleh Japelidi ini merupakan kompetensi pertama yang minimal harus dimiliki oleh pengguna.
Japelidi mengungkap masyarakat Indonesia memiliki kompetensi akses dengan baik (nilai 4 dari 5). Artinya tidak ada permasalahan pada sisi teknis pengoperasian teknologi. Bersyukur adalah sikap yang harusnya hadir atas kepemilikan kompetensi ini.
Selanjutnya berkenaan dengan tujuan penggunaannya. Bagaimana agar hasil chatGPT dapat termanfaatkan dengan baik?
Hasil yang diberikan oleh chatGPT atas perintah atau pertanyaan pengguna perlu dianalisis, diverifikasi, dan dievaluasi. Kompetensi ini diperlukan untuk dapat memanfaatkan hasil chatGPT secara bijak.
Namun sayang, berdasarkan hasil survei yang sama oleh Japelidi dilaporkan bahwa tingkat literasi digital pada kompetensi analisis, verifikasi, dan evaluasi secara berturut-turut adalah 3,6; 3,6; dan 3,7 dari nilai tertinggi 5. Nilai ini berarti bahwa ketiga kompetensi masih belum cukup untuk dinyatakan “Baik”. Insecure dalam artian positif perlu dihadirkan sebagai tanggapan atas nilai ketiga kompetensi.
Pada akhirnya, fenomena kompetensi akses baik yang belum dibarengi dengan kompetensi analisis, verifikasi, dan evaluasi lah yang perlu menjadi perhatian semua pihak.
Kecerdasan tekologi membutuhkan penggunaan yang cerdas. Ingat cerdas teknis dan etika tentunya. Bersyukur dan insecure harus berjalan beriringan untuk menjadi smart user.
Artikel Terkait
Windows 10 sudah end of Life (EOL).....apakah waktunya pindah ke Windows 11 ?
03 October 2025
BACA ARTIKEL →
Gabungkan Literasi Keuangan dan Digital, Dosen Lakukan Pengmas Digitalisasi Manajemen Keuangan UMKM
27 September 2025
BACA ARTIKEL →